Batu Bara – Baratapost.com | Danantara Indonesia secara serentak meresmikan enam proyek hilirisasi Fase I yang tersebar di 13 lokasi di Indonesia pada Senin, (9/2/2026). Total nilai investasi proyek hilirisasi ini mencapai US$ 7 miliar dan diproyeksikan menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja langsung.
Langkah strategis ini menjadi bagian dari agenda besar transformasi ekonomi nasional. Fokus utama diarahkan pada penguatan sektor riil, peningkatan nilai tambah industri dalam negeri, serta penciptaan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Peresmian serentak ini menandai dimulainya implementasi proyek-proyek hilirisasi prioritas Fase I. Proyek tersebut dikelola secara terintegrasi lintas sektor, mencakup energi, pangan, mineral, dan logam. Tujuannya adalah memperkuat struktur industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor secara bertahap.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa hilirisasi merupakan agenda strategis nasional dan menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia. Program ini juga menjadi fokus utama Danantara Indonesia dalam mendorong transformasi ekonomi.
Menurut Rosan, tahap awal proyek hilirisasi diharapkan memberikan dampak nyata bagi perekonomian. Dampak tersebut terlihat dari peningkatan nilai tambah industri dan penyerapan tenaga kerja. Ke depan, hilirisasi diyakini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional yang kuat dan berdaya saing global.
Selain itu, kolaborasi erat antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis dinilai krusial. Sinergi ini akan memperkuat kemandirian industri nasional dan mendorong Indonesia menuju ekonomi bernilai tambah tinggi.
Salah satu proyek strategis diresmikan oleh MIND ID bersama INALUM dan ANTAM. Proyek tersebut berupa fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.
Fasilitas ini mencakup pembangunan smelter aluminium baru berkapasitas 600.000 metrik ton per tahun serta Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun.
Proyek ini mendukung program ketahanan mineral nasional sekaligus memperkuat pasokan bahan baku bagi industri manufaktur dalam negeri. Dengan demikian, rantai nilai industri nasional menjadi semakin solid.
Melalui proyek hilirisasi ini, MIND ID mendorong peningkatan nilai tambah hingga 70 kali lipat. Harga bauksit mentah yang berkisar US$ 40 per metrik ton dapat meningkat menjadi sekitar US$ 400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina. Nilainya kembali melonjak hingga US$ 2.800–US$ 3.000 per metrik ton saat diproses menjadi aluminium.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menyatakan bahwa proyek ini memperkuat kemampuan produksi aluminium nasional. Selain itu, Indonesia semakin mampu menekan ketergantungan impor aluminium.
Ia menambahkan, saat smelter aluminium baru beroperasi penuh, cadangan devisa diperkirakan meningkat 394 persen, dari sekitar Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Industri manufaktur pun memperoleh kepastian pasokan bahan baku dari dalam negeri.
Menurut Maroef, proyek hilirisasi ini merupakan kontribusi nyata Grup MIND ID dalam memperkuat ekonomi nasional dan kedaulatan sektor mineral. Upaya ini dilakukan demi mendukung pembangunan berkelanjutan dan masa depan Indonesia.
Peresmian proyek turut dihadiri Gubernur Kalimantan Barat, Anggota DPR RI Komisi XII, Bupati Mempawah, Raja Mempawah XIV, Dewan Adat Dayak, serta jajaran Direksi dan Komisaris MIND ID Group.
Secara keseluruhan, proyek-proyek hilirisasi Danantara Indonesia sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia. Fokus utamanya adalah mempercepat transformasi ekonomi melalui penguatan sektor riil, peningkatan nilai tambah sumber daya domestik, serta pembangunan industri yang kompetitif dan berkelanjutan.
Danantara Indonesia bersama BUMN memastikan seluruh proyek prioritas direalisasikan secara disiplin, tepat waktu, dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi Indonesia. (Ak)






