LHOKSEUMAWE, baratapost.com – Menjelang berakhirnya masa kepengurusan periode 2023-2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Lhokseumawe akan menggelar Konferensi ke II guna memilih pengurus masa bakti berikutnya.
Konferensi organisasi wartawan tertua dan terbesar di Indonesia ini mengangkat tema “Meneguhkan peran pers dan keberlanjutan industri media di era digital” yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 3 Februari 2026, bertempat di aula Sekretariat PWI Kota Lhokseumawe.
Ketua PWI Lhokseumawe, Sayuti Achmad, menyebut konferensi ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum penting untuk menjaga keberlangsungan PWI, memperkuat regenerasi, serta merumuskan arah masa depan pers yang profesional dan bermartabat di daerah.
Menurut Sayuti, PWI Lhokseumawe saat ini memiliki 36 anggota, terdiri dari anggota muda dan anggota biasa. Dari jumlah tersebut, enam orang telah memenuhi syarat administratif dan kompetensi untuk mencalonkan diri sebagai Ketua PWI Lhokseumawe.
Enam nama tersebut yaitu Sayuti Achmad, Iskandar, Haiqal Alfikri, Fahrizal Salim, Jamaluddin dan Sugito Tassan. Lima di antaranya telah mengantongi Sertifikasi Madya Dewan Pers, sementara satu orang telah memiliki Sertifikasi Utama, yang menjadi indikator penting profesionalisme wartawan.
“Ini menunjukkan bahwa PWI Lhokseumawe memiliki kader-kader yang matang secara kompetensi dan siap untuk memimpin organisasi wartawan tertua di Indonesia ini,” ujar Sayuti, wartawan yang telah mengantongi sertifikasi Utama itu.
Lebih lanjut, Sayuti menegaskan bahwa PWI adalah rumah besar bagi wartawan, bukan organisasi yang bersifat elitis apalagi diwariskan. Keberlangsungan PWI, kata dia, sangat ditentukan oleh komitmen kolektif anggotanya dalam menjaga marwah organisasi.
“PWI harus tetap berdiri sebagai penjaga etika, kualitas, dan independensi pers. Organisasi ini hanya akan kuat jika dijaga bersama, bukan dikuasai oleh segelintir orang,” tegasnya.
Ia berharap, kepemimpinan PWI ke depan harus mampu memperkuat fungsi organisasi sebagai wadah pembinaan, peningkatan kapasitas, dan perlindungan profesi wartawan, khususnya di tengah tantangan era digital yang dibanjiri oleh informasi media sosial.
Sayuti juga menyoroti fenomena menjamurnya wartawan baru yang belum sepenuhnya memahami kaidah jurnalistik.
Ia mengakui, selama ini pihaknya menerima berbagai masukan, termasuk dari pemerintah, terkait keberadaan oknum-oknum yang menjalankan aktivitas jurnalistik tanpa bekal kompetensi yang memadai.
“Banyak yang masih dalam tahap pembinaan dan pembentukan karakter jurnalistik. PWI hadir untuk membina, tetapi kami juga akan menilai mereka layak atau tidak bergabung di PWI,” ujarnya.
Menurutnya, ke depan PWI harus menjadi filter utama dalam menjaga kualitas wartawan, agar profesi jurnalistik tidak kehilangan kepercayaan publik.
Proses seleksi keanggotaan, sertifikasi, serta pembinaan berkelanjutan dinilai menjadi kunci masa depan PWI. Sehingga PWI Lhokseumawe telah berhasil menyelenggarakan tiga kali kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
Terkait hubungan dengan pemerintah, Sayuti menegaskan bahwa PWI berkomitmen menjaga relasi yang profesional, setara, dan konstruktif, tanpa mengorbankan independensi pers.
“PWI bukan alat kekuasaan, tetapi juga bukan musuh bagi pemerintah. Hubungan yang dibangun adalah kemitraan yang sehat, kritis, objektif, dan berimbang,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat melihat PWI sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi publik yang akurat dan mencerahkan, sekaligus sebagai pengawas sosial yang menjalankan fungsi kontrol secara bertanggung jawab.
Sementara itu, Ketua Panitia Konferensi II PWI Kota Lhokseumawe, Iskandar, ST, menyampaikan, untuk langkah awal pihaknya secara resmi telah membuka proses pendaftaran Bakal Calon Ketua PWI Kota Lhokseumawe.
“Proses pendaftaran dan penerimaan berkas bakal calon dibuka mulai tanggal 28 hingga 31 Januari 2026, pada jam kerja,” ujar Iskandar Rabu, 28 Januari 2026.
Dikatakannya, panitia saat ini sedang melakukan pematangan persiapan untuk memastikan kegiatan konferensi berjalan lancar, demokratis, dan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Iskandar juga mengharapkan, konferensi II PWI Kota Lhokseumawe dapat melahirkan kepemimpinan yang visioner, berintegritas, serta mampu membawa PWI tetap relevan dan berwibawa dalam menghadapi dinamika pers dan tantangan keberlanjutan industri media di era digital.






